Saturday, December 7, 2013

tidaklah berhak untuk menetapkan suatu hukum tentangnya kecuali orang yang telah memiliki berbagai macam ilmu

Sesungguhnya perkara-perkara kontemporer merupakan perkara yang paling rawan dan butuh pembahasan yang lebih dalam. Oleh karena itu tidaklah berhak untuk menetapkan suatu hukum tentangnya kecuali orang yang telah memiliki berbagai macam ilmu.

Ilmu yang pertama: Menguasai seluruh nas-nas syariat (terlatih dengan al-Qur’an dan Hadis Nabi sampai-sampai tidak ada satu nas-pun terlewat yang mungkin berhubungan dengan perkara-perkara kontemporer itu)

Ilmu yang kedua: Harus menguasai ilmu Ushul Fikih

Ilmu yang ketiga: Menguasai Maqasid asy-Syari’ah

-Syaikh Usamah Sayyid al-Azhari-

“Apakah mengebom sebuah klub malam di suatu negara muslim itu halal atau haram?”

Pesan untuk Kelompok Islam garis keras dan suka mengkafirkan

Syaikh Muhammad Sya’rawi rahimahullah berkata:
Pernah suatu saat saya berbincang dengan salah satu pemuda penganut Islam garis keras dan saya bertanya kepadanya:
“Apakah mengebom sebuah klub malam di suatu negara muslim itu halal atau haram?”

Dia menjawab: “Tentu saja halal. Membunuh mereka itu boleh.”

Saya bertanya: “Kalau seandainya kamu membunuh mereka, sedangkan mereka bermaksiat kepada Allah, kemana mereka akan ditempatkan?”

Dia menjawab: “Tentu saja neraka!!”

Saya bertanya: “Kemana syaitan ingin menjerumuskan mereka?”

Dia menjawab: “Tentu saja ke neraka..!”

Saya berkata: “Kalau begitu kamu dengan syaitan memiliki tujuan yang sama, yaitu memasukkan manusia ke neraka!”

Lalu saya menyebutkan sebuah hadis Rasulullah ketika ada mayat seorang yahudi lewat di hadapan Nabi lalu Nabi menangis. Ditanyalah Nabi: Apa yang membuat engkau menangis wahai Rasulullah? Nabi bersabda: ((Telah lolos dari ku satu jiwa dan ia masuk ke dalam neraka))

Saya berkata: Perhatikan perbedaan antara kalian dengan Rasulullah yang berusaha untuk memberi petunjuk kepada manusia dan menjauhkan mereka dari neraka.

Waktu yang Barokah


Indahnya akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan terhadap hewan sekalipun

DARI HABIBANA MUNZIR :

Indahnya akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu tidak ingin mengecewakan orang lain,
tidak ingin menyakiti perasaan orang lain,

bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin menyakiti hewan sekalipun,

sebagaimana teriwayatkan di dalam sirah Ibn Hisyam dimana ketika salah seorang sahabat mencaci keledainya yang lemah dan berjalan lambat dan mencambuknya,

dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar cacian sahabat tersebut terhadap keledainya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin membeli keledai tersebut,

namun sahabat itu menolaknya sebab keledai itu sangat lemah sehingga ia ingin menghadiahkan nya saja kepada
beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

sedangkan untuk di hadiahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja sahabat itu merasa malu, terlebih lagi jika akan dibeli oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap ingin membeli keledai tersebut, maka sahabat itu pun mengatakan harga keledai itu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membayar dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang disampaikan oleh sahabat tersebut,

dan keledai itu kemudian berubah menjadi keledai yang sehat dan penuh tenaga karena telah disentuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..

berhati-hatilah ketika berbicara tentang perkara yang belum kita kuasai sepenuhnya

"Barang siapa berbicara tentang suatu hal sebelum ia mempelajarinya, maka bisa saja ia mengira bahwa setiap yang hitam adalah arang, setiap yang merah adalah daging, dan setiap yang putih adalah gajih/lemak.

Karenanya, berhati-hatilah ketika berbicara tentang perkara yang belum kita kuasai sepenuhnya."

-Syekh Ali Jumah-

Luasnya kadar ilmu seseorang itu akan timbul dari pada keluasan akhlaqnya yang mulia

Alhabib Ali Aljufri berkata: 
Luasnya kadar ilmu seseorang itu akan timbul dari pada keluasan akhlaqnya yang mulia.

Melihat gambar-gambar yang penuh maksiat di televisi mematikan hati

Almusnid Alhabib Umar Bin Hafidz :

Ikutilah agama dan sunnah Rasulullah SAW. Berapa banyak TV yang berada di rumah-rumah yang telah merusak dan menghilangkan iman kita. Hal itu menjadi salah satu sebab seseorang meninggal dalam keadaan su’ul khotimah.Seperti dikisahkan seseorang yang meninggal ketika melihat gambar-gambar yang penuh maksiat di televisi dalam keadaan hatinya mati. Dan ia menjalani sakaratul maut dengan susah payah.

Sebaliknya, hati-hati yang sholih akan meninggal dalam keadaan mengingat para Nabi, Sayyidah Fatimah, dan Sayyidah Khadijah, sahabat, kaum Muhajirin dan Anshor. Dan kelak akan dibangkitkan bersama mereka.

Beberapa orang ketika sakaratul maut tak bisa berkata LailahaillAllah,bahkan setelah di talqin tiga kali. Namun mereka dapat mengucap kata selain LailahaillAllah SWT. Ketika ditanyakan kepada salah satu mayat di dalam mimpi, Kenapa engkau tak bisa berkata Lailahaillah? Ia pun menjawab, Yang mencegah saya berkata LailahaillAllah SWT adalah pandangan-pandangan haram ketika saya di dunia. Itulah hal yang mencegah antara kita dan Allah SWT (Lailahaillah).